Pages

Subscribe:

Labels

Kamis, 13 Oktober 2011

Gempa Bali Kian Sadarkan Pentingya Mitigasi Risiko Bencana

Selama ini penanggulangan bencana baru dilakukan setelah kejadian, yaitu melalui BNPB yang mencairkan dananya setelah disetujui oleh legislatif. Pemerintah harusnya terlibat, hanya karena leadership pemerintah terhadap pencegahan bencana masih kurang, lebih kepada tindakan reaktif. Karnoto Mohamad
Bali–Acara 17th Indonesia Rendezvous di Nusa Dua, Bali, yang dihadiri para praktisi asuransi, pada Kamis, 13 Oktober 2011, diwarnai kepanikan, termasuk wartawan Infobank yang tengah meliput ajang tersebut. Pasalnya, ketika materi seminar sedang diketengahkan, terjadi gempa berskala 6,8 SR. Hotel Westin, Bali, yang menjadi tempat berkumpulnya para praktisi asuransi itu pun bergetar hingga 10 detik. Sontak semua berlari ke luar hotel. Menariknya lagi, gempa itu terjadi saat seminar yang digelar sedang mengambil tema tentang catastrophe termasuk gempa bumi dan mitigasi risikonya.
Menjawab pertanyaan Infobank, Kepala Pusat Data Informasi BNPB Sutopo Purwo Nugroho, menjelaskan bahwa telah terjadi gempa 6,8 SR pada pukul 10.16.27 WIB. Lokasi: 9.89 LS – 114.53 BT (143 KM BARATDAYA NUSADUA-BALI). Kedalaman 10 km di Samudera Hindia.
Kendati gempa di Bali ini tidak menimbulkan korban jiwa dan hanya membuat rusak sejumlah bangunan, kejadian ini kembali mengingatkan tentang pentingnya mitigasi risiko terhadap kejadian katastropik.
Selama ini, meski kesadaran masyarakat terhadap risiko bencana masih rendah, industri asuransi umum di Indonesia telah menawarkan produk asuransi gempa. “Namun, karena pencadangan sektor private tidak mampu meng-cover, memang sebaiknya melibatkan dukungan pemerintah,” ujar Direktur Asuransi ACA Debie Wijaya, yang juga Pengurus Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI).
Selama ini, penanggulangan bencana baru dilakukan setelah kejadian, yaitu melalui BNPB yang mencairkan dananya setelah disetujui oleh legislatif. “Jadi, pemerintah harusnya terlibat, hanya karena leadership pemerintah terhadap pencegahan bencana masih kurang, lebih kepada tindakan reaktif daripada antisipatif,” ujar Geotechnical Engineering Research Group ITB Prof Mansyur Irsyam, menjawab pertanyaan Infobankusai menjadi pembicara seminar itu.
Padahal, musibah katastropik selalu menimbulkan kerugian yang luar biasa besar. Sebagai catatan, menurut data BNPB, tiga bencana besar yang terjadi hampir bersamaan pada Oktober 2010 lalu, masih menyisakan masalah yang berat. Banjir bandang di Wasior, tsunami di Mentawai dan erupsi Merapi menyebabkan dampak yang besar dengan total kerusakan dan kerugian akibat tiga bencana mencapai Rp4,2 triliun. (*)
Source:

0 komentar:

Posting Komentar